Jumat, 04 November 2011
Kamis, 03 November 2011
(QS Ibrahim : 42)
Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.
(QS Ibrahim : 42)
(QS Ibrahim : 42)
(QS. An Naml : 19)
...ya Tuhan ku, anugrahkanlah aku Ilham untuk tetap mensukuri nikmat_Mu yang telah Engkau anugrahkan padaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridho'i dan masukkanlah akudengan rahmad_Mu ke dalam golongan hsmba_Mu yang saleh
(QS. An Naml : 19)
Jumat, 08 Juli 2011
MUTU LAYANAN SEKOLAH MENENGAH ATAS
MUTU LAYANAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS
(Studi Korelasi
antara Kemampuan Profesional Kepala Sekolah dan Partisipasi Komite dengan Mutu
Layanan Sekolah Menengah Atas Negeri di Kecamatan Tebing Tinggi)
ARTIKEL
Diajukan untuk Memenuhi
Persyaratan
Memperoleh Gelar Magister
Pendidikan
Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan
Oleh
Indra Oktaviro
NPM. A2k009247
PROGRAM STUDI
MAGISTER
MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
BENGKULU
2011
Judul : MUTU LAYANAN SEKOLAH MENENGAH ATAS
(Studi Korelasi antara
Kemampuan Profesional Kepala Sekolah dan Partisipasi Komite dengan Mutu Layanan
Sekolah Menengah Atas Negeri di Kecamatan Tebing Tinggi)
Nama :Indra Oktaviro/NPM. A2k009247
Prodi : MMP UNIB
ABSTRACT
THE SCHOOL QUALITY
SERVICES
(Studying The
Correlation The Head Master Profesional Ability And The School Committees Participation To The High School
Quality Services In Tebing Tinggi District)
Idra
Oktaviro
The
objective of research is to find out the high school quality services as a
studying the correlation between the head master professional ability and
school committees participation to the high school quality services in Tebing
Tinggi district at Empat Lawang region.
The population of the research were 23 teachers. The
method of this research was survey by using correlation approach and the sample
of this research was one hundred seven teachers and there were taken by using
stratified proportional random sampling technique. The data were collected by
using a set of questionnaires. The data were analyzed by using descriptive and
inferential statistics. The results show that, there was a positive correlation
between . The Head Masters
Professional Ability to The High School Quality Services. Second, the was a positive correlation between The School
Commitees Participation to the High School Quality Services. Third, there was a
positive correlation the head masters professional ability and the school
commitees participation to the high school quality services. The coefficient of correlation were r.y.1
= 0,683. Second, the was positive correlation between teachers satisfaction with the effectiveness of
classroom management . The coefficient of correlation was r.y.2 = 0,345. Third,
there was a positive correlation the head masters professional ability and the
school commitees participation to the high school quality services. The
coefficient of correlation was r.y.12= 0,1396.
Key words: The high quality
services, the head masters profesional ability and the school committees participation.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Untuk melaksanakan tugas yang
rumit dan banyak tersebut, diperlukan seorang kepala sekolah yang profesional.
Satu hal yang perlu disadari bahwa menjadi kepala sekolah yang profesional
merupakan satu hal yang tidak mudah. Banyak hal yang harus dipahami,
dipelajari, maupun dikuasai, untuk itu diperlukan keahlian kepemimpinan.
Kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sekolah yang efektif penuh tanggung
jawab akan mampu melaksanakan tugas kepala sekolah dengan baik dan pada
akhirnya mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebaliknya kepemimpinan
yang tidak efektif akan menyebabkan tidak berhasilnya sebagian atau bahkan
tugas kepala sekolah itu sendiri, dan akhirnya menyebabkan tidak tercapainya
sebagian atau seluruh tujuan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah merupakan
personel pendidikan yang memiliki peran besar dalam mencapai keberhasilan
pengelolaan sekolah. Kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang didalamnya termasuk
pula kepribadian, keterampilan dalam menangani masalah yang timbul di sekolah,
kemampuan dalam menjalin hubungan antar manusia serta gaya kepemimpinan
situasional sangat menentukan dan memiliki pengaruh yang besar terhadap
kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Dalam hal ini keberhasilan kepala
madrasah dalam memimpin madrasah tampak dari apa yang dikerjakannya. Hal ini
penting untuk dikedepankan karena apa yang dikerjakan kepala sekolah melalui
kebijaksanaan yang telah ditetapkan akan dipengaruhi kondisi fisik dan psikis
guru dan karyawan lainnya.
Kepala
sekolah sebagai pimpinan Sekolah memikul tanggung jawab yang amat besar untuk
memenuhi harapan dari berbagai pihak yang terkait. Dengan mengemban tugas pokok
Pendidikan Nasional, maka kepala sekolah dituntut untuk mampu mengarahkan,
mengatur, memberi teladan anak buahnya untuk mencapai tujuan bersama yang telah
ditetapkan. Keberhasilan dan ketidakberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan
sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya kepala sekolah mengatur atau mengelola
sekolah atau seluruh potensi sekolah agar berfungsi optimal dalam mendukung
tercapainya tujuan sekolah. Dengan demikian, Kepala sekolah bukan sekedar
pelaksana atas berbagai kebijakan atasan, melainkan sebagai pemimpin
profesional yang bertanggung jawab penuh dalam menjalankan manajemen sekolah
demi tercapainya mutu pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Sebesar 85% dari
masalah perbaikan mutu adalah tanggung jawab manajemen. Kepemimpinan merupakan
salah satu aspek penting dalam pengelolaan sekolah agar mutu sekolah tetap
terjaga dengan baik.
Mutu
pelayanan pendidikan ditentukan oleh sekurang-kurangnya faktor sarana,
prasarana, alat perlengkapan pembelajaran dan faktor guru. Faktor sarana
prasarana dimaksud misalnya ruang belajar dan mebelnya yang memenuhi syarat. Alat
perlengkapan pembelajaran yang digunakan gur seperti media belajar, alat peraga
dan lainnya cukup tersedia. Sedang faktor kepala sekolah dan guru harus
memiliki profesionalisme dan kesejahteraan yang cukup agar tidak berhati
bimbang dalam mengelola sekolah dan mengajar. Apabila sudah terpenuhi, maka
mutu pelayanan pendidikan akan dapat terimplementasikan yang tentunya siswa
akan dapat menikmati proses pembelajaran yang menyenangkan.
2. Rumusan Masalah
Secara umum
rumusan masalahnya adalah ”Apakah terdapat hubungan antara profesional kepala sekolah
dan peran komite sekolah dengan mutu layanan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri
di kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang?”. Rumuskan permasalahan secara khusus sebagai berikut;
1. Apakah terdapat hubungan
antara kemampuan professional kepala sekolah dengan mutu layanan SMA di kecamatan
Tebing Tinggi? 2. Apakah
terdapat hubungan antara peran komite sekolah dengan
mutu layanan SMA di kecamatan Tebing Tinggi? ; dan 3. Apakah terdapat hubungan
antara profesional kepala sekolah dan peran
komite sekolah dengan mutu layanan SMA di kecamatan Tebing Tinggi?
3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas
tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. untuk mengetahui hubungan kemampuan
profesional kepala sekolah dengan mutu layanan
SMA di Kecamatan Tebing Tinggi; 2. Untuk mengetahui hubungan peran komite sekolah
dengan mutu layanan SMA di Kecamatan Tebing Tinggi; dan 3. Untuk mengetahui mengetahui kemampuan
professional kepala sekolah dan peran komite
sekolah dengan mutu layanan SMA di Kecamatan Tebing Tinggi.
B. METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Penelitian
ini dimaksudkan untuk mengungkapkan hubungan (korelasi) antara kemampuan professional kepala sekolah dan partisipasi
komite sekolah dengan mutu layanan Sekolah Menengah Atas (SMA). Berpedoman pada tujuan maka metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian deskriptif
adalah suatu metode yang menggambarkan apa yang dilakukan berdasarkan
fakta-fakta atau kejadian-kejadian pada objek yang diteliti, untuk kemudian
diolah menjadi data dan selanjutnya dilakukan suatu analisis sehingga pada
akhirnya dihasilkan suatu kesimpulan
2. Subyek
Penelitian
Subyek penelitian dipilih secara purposive sampling atau
berdasarkan tujuan. Menurut Sukardi
(2004: 64) teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan seseorang
menjadi sampel atau tidak yang didasarkan pada tujuan tertentu.
3. Teknik Pengumpulan Data
Pada
penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, angket, dan dokumentasi.
4. Teknik
Analisis Data
Analisis
terhadap data yang terkumpul berkaitan dengan sistem penerimaan siswa baru
sekolah unggul dilakukan dengan analisis kuanlitatif deskriptif melalui model interaktif yang dikembangkan Milles dan
Huberman (1984: 23).
C. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Hasil penelitian
Hubungan
antara dua variabel bebas yaitu Kemampuan Profesional Kepala Sekolah (X1)
dan Partisipasi Komite (X2) dengan satu variabel terikat yaitu Mutu
Layanan Sekolah (Y) yang dianalisis dengan menggunakan Pearson Product Moment
menghasilkan sejumlah koefisien korelasi yaitu ry.1, ry.2,
dan ry12.
Koefisien korelasi ry.1
adalah 0,683 untuk variabel (X1)
dengan variabel (Y), korelasi kedua variabel menunjukkan hasil yang signifikan.
Akan tetapi Kemampuan Profesional Kepala Sekolah dalam meningkatkan Mutu
Layanan Sekolah hanya sebesar 46,7%.
Koefisien korelasi ry.2 adalah
0,316 untuk variabel (X2) dengan variabel (Y), korelasi kedua
variabel menunjukkan hasil yang signifikan. Akan tetapi Partisipasi Komite
dalam meningkatkan Mutu Layanan Sekolah hanya sebesar 9,99%.
Koefisien korelasi ry12 adalah 0,5413 untuk variabel
(X1) dan variabel (X2) secara bersama-sama dengan
variabel (Y), korelasi ketiga variabel menunjukkan hasil yang signifikan. Akan
tetapi Kemampuan Profesional Kepala Sekolah dan Partisipasi Komite secara
bersama-sama dalam meningkatkan Mutu Layanan Sekolah sebesar 8,59%.
Hasil perhitungan masing-masing variabel
bebas tersebut, Kemampuan Profesional Kepala Sekolah yang ditampilkan oleh guru
SMA Negeri Kota Bengkulu dalam menjalankan tugasnya untuk menciptakan Mutu
Layanan Sekolah tidak terlalu besar, bila hasil korelasi hanya 46,7%. Hal ini
berarti, bahwa Mutu Layanan Sekolah tidak selalu tergantung dengan Kemampuan
Profesional Kepala Sekolah. Demikian juga sumbangan Partisipasi Komite terhadap
Mutu Layanan Sekolah hanya sebesar 9,99%, artinya juga bahwa Mutu Layanan
Sekolah tidak selalu tergantung dengan Partisipasi Komite.
Hasil korelasi secara bersama-sama kedua
variabel bebas (X1 dan X2) dengan variabel (Y) adalah r y1.2
= 0,5413. Hasil pengujian koefisien korelasi kedua variabel bebas dengan
variabel terikat adalah signifikan. Dari hasil korelasi, setelah dihitung
korelasi determinasinya diperoleh hasil sebesar 54,13 %. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa Kemampuan Profesional Kepala Sekolah dan Partisipasi Komite
secara bersama-sama tidak terlalu besar signifikansinya.
Meskipun demikian, sekecil apapun sumbangan Kemampuan Profesional Kepala
Sekolah dan Partisipasi Komite terhadap Mutu Layanan Sekolah tetap diperlukan
dan perlu terus ditingkatkan. Bila dalam kajian penelian yang dilakukan oleh
Sijde dalam Shalahuddin (2005: 106)
dinyatakan bahwa iklim sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian
prestasi belajar siswa dan tingkah laku
siswa, maka dari penelitian ini ternyata iklim sekolah juga mempengaruhi Mutu
Layanan Sekolah walaupun relatif kecil. Dengan demikian maka penciptaan iklim
sekolah yang kondusif menjadi suatu kondisi yang harus terjadi agar siswa dan
guru dapat secara optimal mengembangkan potensi dirinya, sehingga kualitas
pendidikan yang dicita-citakan menjadi suatu kenyataan.Sementara itu dalam
kajian penelitian yang dilakukan oleh Supriyanto (2005:94) menyatakan
bahwa Mutu Layanan Sekolah dapat
ditingkatkan dengan cara meningkakan disiplin dan motivasi kerja guru tersebut
dalam mengembangkan program kerjanya. Dengan demikian peningkatan kerja guru antara lain dengan melibatkan guru
dalam membuat suatu keputusan, dibiasakan untuk ikut bertanggung jawab atas
segala bentuk hasil kerjanya, menciptakan iklim kerja yang harmonis,
menghindari perilaku sikap negatif dalam melaksanakan tugas yang menjadi
tanggung jawabnya.Menurut hasil penelitian Ruslili (2005: 115) menunjukkan
terdapat hubungan yang signifikan antara penilaian guru terhadap gaya
kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru secara bersama-sama dengan Mutu
Layanan Sekolah. Dengan demikian, makin tinggi penilaian guru terhadap gaya
kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru maka makin tinggi Mutu
Layanan Sekolah.
Dengan
demikian Kemampuan Profesional Kepala Sekolah dan Partisipasi Komite sangat
berhubungan dengan upaya penciptaan dan pengembangan Mutu Layanan Sekolah,
hubungan tersebut baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.
D. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan dapat disimpulkan 1. Terdapat
hubungan yang signifikan antara Kemampuan professional Kepala Sekolah dengan
Mutu Layanan Sekolah. Keduanya berjalan dengan
stimultan. Artinya semakin professional Kepala Sekolah maka Mutu Layanan
Sekolah akan semakin Baik dan memuaskan pemakai layanan sekolah; 2. Terdapat hubungan yang signifikan antara
Partisipasi Komite sekolah dengan Mutu layanan Sekolah. Keduanya berjalan
dengan stimultan. Artinya semakin kondusif partisipasi Komite Sekolah maka Mutu
Layanan Sekolah akan semakin Baik dan memuaskan pemakai layanan sekolah; dan 3. Terdapat hubungan yang
signifikan antara Kemampuan Profesional Kepala sekolah dan Mutu Layanan Sekolah
secara bersama-sama dengan Mutu Layanan Sekolah.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka ada beberapa saran yang
perlu diperhatikan, yaitu 1. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa mutu layanan
sekolah dapat ditingkatkan apabila kemampuan professional kepala sekolah baik.
Disamping itu mutu layanan sekolah juga akan meningkat apabila peranan komite
dalam berpartisipasi membantu pengembangan sekolah memperhatikan kesejahteraan
guru. Hasil penelitian ini mengisyaratkan supaya pimpinan sekolah dan guru
memilki kerjasama dengan komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan yang
berorientasi peningkatan mutu layanan pendidikan; dan 2. Data penelitian memperlihatkan masih banyak profesionalisme
kepala sekolah dan komite sekolah rendah .Hal ini menunjukan bahwa sadar atau
tidak sadar masih banyak kepala sekolah, guru memikisikap yang bertentangan
dengan manfaaf mutu layanan sekolah dan kemampuan professional kepala sekolah
serta peran komite sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Balitbang Depdiknas. 2007. Pedoman
Penjaminan Mutu Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar
dan Menengah. www.puskur.net/inc/si/PedSMBI.pdf
Kasan, Tholib. 2003. Teori
dan Aplikasi Administrasi Pendidikan. Jakarta : Studia Press
Milles,
Mattehew B dan Huberman, A Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta
: UI Press
Moko, Murdiyat. 1997. IN:
SM - Sekolah Unggul Cetak Pribadi Elitis?. Suara Merdeka. http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata
/1997/03/17 /0076.
Sukardi. 2004. Metodologi
Penelitian Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Sulipan. 2007. Manajemen
Sekolah. TEDC Bandung. http://www.geocities.com/pengembangan_sekolah/kumpulan1.html
Suryosubroto. 2004. Manajemen Pendidikan Di
Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. www.depdiknas.go.id/publikasi/
brief/94-95-sis_diknas.htm
Kamis, 02 Juni 2011
KERANGKA TEORITIS
DIBUTUHKAN: SEBUAH KERANGKA TEORITIS
Dalam rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar. Kenyataan yang ada, kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah kurang mampu mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemudian kurangnya pemahaman akan pentingnya relevansi pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan budaya, serta bagaimana bentuk pengajaran untuk siswa dengan beragam kemampuan intelektual.
Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka, memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru.
DIBUTUHKAN: SEBUAH TEORI PEMBELAJARAN
Berdasarkan penelitian selama beberapa tahun terakhir, cukup jelas bagi saya ( Jerome S.Bruner), bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori pembelajaran. Teori pembelajaran yang sudah ada selama ini, hanya terfokus pada kepentingan teoritis semata. Sebagai contoh, pada saat membahas tentang teori perkembangan, seorang anak tidak diajarkan pengaruhnya terhadap tantangan sosial dan bagaimana pengalaman nyata yang nantinya akan dialami anak ketika berada di masyarakat. Masih banyak contoh-contoh lain, bagaimana sebuah teori pembelajaran tidak menyentuh aspek sosial dari murud, dan hal ini merupakan bentuk pembodohan secara intelektual dan tidak memiliki tangungjawab moral.
Dari permasalahan di atas, kita menyadari bahwa, sebuah teori pembelajaran sebaiknya juga menyangkut suatu praktek untuk membimbing seseorang bagaimana caranya ia memperoleh pengetahuan dan keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan akan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Akan hal itu, mari kita susun beberapa teorema yang memungkinkan, yang mungkin akan membawa kita kepada sebuah teori pembelajaran yang baik.
ELEMENT-ELEMENT DARI SEBUAH TEORI
Apa yang dimaksud dengan teori pembelajaran? Saya akan mencoba menguraikan beberapa teorema untuk memisahkan apa yang kita maksud dengan teori pembelajaran dari teori-teori yang sudah ada selama ini. Hal pertama yang akan saya sampaikan bahwa nature dari teori pembelajaran adalah prescriptive, bukan deskriptif. Teori tersebut memiliki tujuan untuk menghasilkan akhir yang luar biasa dan proses menghasilkannya melalui cara yang kita sebut optimal. Itu bukan sebuah deskripsi tentang apa yang terjadi saat proses belajar terjadi-itu adalah sesuatu yang normatif, yang memberikan sesuatu yang mengena pada dirimu, dan pada akhirnya, harus memberikan suatu catatan mengenai dirimu pada saat kamu memberikan pembelajaran di dalam kelas. Namun faktanya, banyak orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan berasumsi bahwa mereka dapat mengandalkan jenis-jenis teori yang lain selain teori pembelajaran. Sebagai contoh, saya menemukan bahwa ketergantungan para pendidik terhadap teori belajar sangat besar, padahal yang menjadi masalah adalah teori belajar bukan teoeri pembelajaran. Teori belajar adalah teori yang mendeskripsikan apa yang sedang terjadi saat proses belajar berlangsung dan kapan proses belajar tersebut berlangung.
Tidak ada batasan yang jelas, bagaimana seseorang yang mengandalkan teori belajar dapat mengambil intisari yang tepat yang akan membimbing dia pada saat menyusun kurikulum. Ketika saya mengatakan bahwa teori pembelajaran itu prescriptive, yang saya maksud adalah suatu yang ada sebelum adanya fakta. Itu adalah sesuatu yang ada sebelum proses belajar terjadi, bukan ketika, dan bukan setelahnya.
Teori pembelajaran harus mampu menghubungkan antara hal yang ada sekarang dengan bagaimana menghasilkan hal tersebut. Teori belajar menjelaskan dengan pasti apa yang terjadi, namun teori pembelajaran ’hanya’ membimbing apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan hal tersebut.
Ada 4 hal yang terkait dengan teori pembelajaran:
1. teori pembelajaran harus memperhatikan bahwa terdapat banyak kecenderungan cara belajar siswa, dan kecenderungan ini sudah dimiliki siswa jauh sebelum ia masuk ke sekolah.
2. teori ini juga terkait dengan adanya struktur pengetahuan. Ada 3 hal yang terkait dengan struktur pengetahuan:
a. struktur pengetahuan harus mampu menyederhanakan suatu informasi yang sangat luas
b. struktur tersebut harus mampu membawa siswa kepada hal-hal yang baru, melebihi informasi yang anda jelaskan
c. struktur pengetahuan harus mampu meluaskan cakrawala berpikir siswa, mengkombinasikannya dengan ilmu-ilmu lain.
3. teori pembelajaran juga terkait dengan hubungan yang optimal. Seorang guru harus mampu mencari hubungan yang mudah tentang sesuatu yang akan diajarkan agar murid lebih mudah menangkap informasi tersebut.
4. yang terakhir, teori pembelajaran terkait dengan penghargaan dan hukuman.
KECENDERUNGAN
Apa yang dapat kita katakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi siswa untuk belajar? Marilah kita mulai dengan gambaran sederhana berikut ini:
untuk memecahkan suatu soal atau masalah, diperlukan alternatif-alternatif jawaban akan permasalahan tersebut, dan seorang siswa harus punya keberanian dan kemampuan untuk mengeksplor alternatif-alternatif tersebut.
Apabila kamu membahas gambaran ini sebagai salah satu kecenderungan, maka ada 3 hal yang langsung dapat dikatakan. Yang pertama adalah, apabila terdapat kasus demikian, maka proses belajar dengan kehadiran guru atau tutor atau instruktur dapat meminiminalisir resiko yang ada dari proses pengeksploran alternatif tersebut. Alasan lainnya adalah bahwa guru atau orang tua dapat membantu mengatasi rasa takut untuk menjadi bodoh. Mereka dapat memberikan kekuatan kepada siswa untuk terus berani mengeksplor alternatif-alternatif yang ada.
Hal kedua yang terkait dengan gambaran di atas adalah bahwa guru harus mampu terbuka terhadap kesalahan murid. Maksudnya adalah seorang guru sebaiknya jangan langsung mengatakan bahwa jawaban dari murid itu salah, melainkan dapat mengarahkan bahwa jawabannya tersebut tetap betul namun merupakan jawaban dari permasalahan yang lain. Hal tersebut dapat membantu menghindarkan murid dari keraguan akan membuat jawaban yang salah, sehingga ia akan terus berani mengeksplor alternatif-alternatif yang lain.
Hal terakhir yang berhubungan dengan gagasan di atas adalah anda sebagai guru harus berani bersikap ’subversif’. Maksudnya adalah harus melawan segala bentuk pemaksaan yang sudah ada sebelumnya terhadap alternatif-alternatif jawaban. Jangan takut untuk ’mengatakan hal yang kurang manis’. Apabila anda tidak melakukan hal ini, maka anda akan membuat siswa anda menjadi murid yang tidak adil, demikian pula anda menjadi guru yang tidak adil. Tentu saja hal ini harus dilakukan dengan sikap skeptis yang sehat dan sesuai jalur yang ada.
Pada saat kita membahas suatu kecenderungan belajar para siswa, maka yang harus kita tanamakan dalam pikiran kita sebagai guru adalah bahwa hubungan kita dengan para murid adalah suatu hubungan istimewa yang melibatkan kekuasaan dan arah tujuan. Dan pertukaran antara keduanya sangat mungkin dilakukan. Kita dapat menggunakan ’kekuasaan, kita sebagai guru untuk menjadikan ’tempat’ yang aman bagi para murid untuk mengungkapkan hal-hal yang benar dan salah. Sangatlah mudah bagi kita untuk mengeksplor alternatif jawaban dari murid apabila murid tersebut sudah mempercayai kita sebagai gurunya.
Hal lain yang juga terkait dengna kecenderungan belajar para siswa, adalah adanya perbedaan latar belakang sosial yang berbeda-beda. Dari situ dapat diketahui bahwa kemampuan tiap murid juga berbeda-beda. Karena itu seorang guru harus mampu ’menyamakan’ terlebih dahulu kemampuan dasar mereka, lewat kemampuan-kemampuan dasar, seperti melalui kata-kata. Seorang guru harus mampu memberikan pengantar yang jelas kepada murid sebelum ia masuk ke dalam subyek yang akan diajarkan. Karena apabila murid tidak menguasai dasarnya, maka segala yang sudah diterangkan guru akan menjadi sia-sia.
Yang juga harus diperhatikan guru adalah kemampuan geometrik tiap murid berbeda-beda. Murid di amerika dapat dengan mudah menyusun obyek-obyek geometri dan kemudian memisahkannya kembali, karena mereka memiliki mainan atau dapat melihat dengan mudah obyek-obyek geometri di sekitar mereka. Namun bagamana dengan murid-murid di Afrika? Karena itu kemampuan geometri juga merupakan kemampuan dasar, selain kemampuan bahasa, yang penting ditransfer oleh seorang guru kepada murid.
Hal terakhir yang juga terkait dengan kecenderungan belajar para siswa adalah sikap seoarng siswa terhadap apa yang sudah tertanam di dalam pikirannya. Sebagai contoh misalnya siswa yang berasala dari masayarakat ekonomi lemah pasti memiliki semacam prinsip bahwa segala sesuatunya dikaitkan dengan keberuntunga, orang yang tadinya miskin lalu bisa berhasil pasti karena beruntung, tidak ada hubungannya dengan kemampuan intelejensinya. Hal-hal seperti ini yang harus ada hadapi sebagai seorang guru bagaimana caranya mengarahkan mindset tersebut agar seorang anak memiliki kecenderungan yang kuat untuk meningkatkan kemampuan belajarnya.
STRUKTUR PENGETAHUAN
Sekarang marilah kita membahas mengenai struktur pengetahuan. Hal tersebut berkaitan dengan kapasitas kemampuan siswa. Hal pertama yang terkait dengan teorema ini adalah teori komputasi yang diperkenalkan oleh Turing. Turing mengatakan bahwa permasalahan yang dapat dipecahkan, dapat dipecahkan lewat cara-cara yang sederhana. Bagaimanapun kompleksnya suatu masalah, kita dapat memecahkannya ke dalam kelompok-kelompok sederhana dan akhirnya menemukan jawaban-jawaban yang sederhana pula yang dapat dicerna dengan mudah oleh para siswa.
Selanjutnya, secara umum pengetahuan dapat dikelompokkan ke dalam 3 bentuk:
1. enactive representation
cobalah tanya seseorang bagaimana caranya ia bisa mengendarai sepeda. Ia bisa bersepda karena ia melakukannya bukan? Inilah yang dimaksud dengan enactive representation, murid mengetahui sesuatu lewat hal yang ia lakukan sendiri.
2. ikonic representation
bentuk ini digunakan misalnya untuk menjelaskan tentang bilangan persegi. Akan lebih menunjukkannya kepada murid lewat ikon. Misalnya lima persegi akan lebih mudah ditangkap murid dengan ikon 52.
3. simbolic representation
bentuk ini digunakan untuk menjelaskan sesuatu lewat gambar.
Tugas dasar seorang guru adalah mengarahkan seorang murid untuk dapat menggabungkan 3 bentuk pengetahuan ini.
HUBUNGAN YANG OPTIMAL
Dalam menjelaskan suatu permasalahan, seorang guru sebaiknya mampu mencari hubungan-hubungan yang menarik tentang topik yang diajarkan sehingga murid akan lebih mengerti apa yang sedang diajarkan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1. coba arahkan murid untuk mengambil intisari dari berbagai contoh yang anda jabarkan. Berikan penjabaran yang luas dan biarkan murid memahami sendiri apa yang akan di atangkap dari contoh yang luas tersebut. Berikan keleluasaan pada murid untuk mentransfer ilmunya sendiri.
2. gunakan hubungan yang berlawanan dalam menjelaskan topik anda. Biasanya murid akan lebih memehami sesuatu setelah mengetahui hal-hal yang berlawan dengan sesuatu tersebut.
3. hindari simbolisasi prematur. Jangan paksakan suatu kosakata baru terhadap murid, sebelum murid tersebut dapat membayangkannya.
4. berikan kesempatan kepada murid untuk berlatih ’berjalan satu langkah kemudian meloncat ke langkah raksasa’
5. revisiting. Maksudnya adalah menghubungkan apa sedang kita pelajari sekarang dengan apa yang telah terlebih dahulu kita pelajari dan apa yang kita telah ketahui.
PENGHARGAAN DAN HUKUMAN
Yang terjadi selama ini adalah bahwa orang tua dan guru memasukkan unsur penghargaan dan hukuman sebagai hasil dari kesusksesan atau kegagalan seorang siswa menyelesaikan tugas. Sehingga inisistiaf belajar siswa berkurang, hanya tergantung dari penghargaan dan hukuman. Ada baiknya seornag guru mampu memberikan ’penghargaan’ kepada siswa yang telah melalui sebuah proses yang baik meskipun pada akhirnya murid tersebut belum mampu menyelesaikan tugas tersebut. Dalam hal ini saya ingin sekali mencermati istilah ’remedial’ yang telah menjadi dogma, menjadi sesuatu yang baru. Seorang pembelajar yang mandiri, dapat memberikan pengahragaan dan hukuman terhadap dirinya sendiri yang dilihat dari usahanya. Bekali siswa anda dengan kemampuan untuk berpikir dan biarkan ia menjadi sosok pembelajar yang mandiri.
Kesimpulan
- Dalam kehidupan modern ini, pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial lama-kelamaan hanya menjadi slogan belaka.
- Bruner mengatakan bahwa suatu struktur pengetahuan berarti bahwa suatu pengetahuan tersebut harusnya dapat dipelajari oleh semua orang dari semua umur dengan cara yang paling sederhana.
- Bruner menyarankan bahwa seorang guu sebaiknya mampu memainkan peran subversif dalam rangka mengarahkan siswa untuk berani mengeksplor alternatif.
Rabu, 02 Februari 2011
How to Lecture: Teaching Tips for Graduate Students
NAMA : INDRA OKTAVIRO
NIM : A2KOO9247
PRODI : S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIB
Mata Kuliah : BAHASA INGGRIS
Jumlah SKS : 3 SKS
Dosen Pengasuh : Prof DrSAFNIL, M.Pd.
Tanggal : 23 Oktober 2010
TUGAS : Menterjemahkan Article berbahasa Inggris
How to Lecture: Teaching Tips for Graduate Students
By Tara Kuther, Ph.D., is a college professor and author
About.com Guide
Many graduate students, especially those who seek academic careers as professors, will find themselves at the head of the classroom. Ironically, however, graduate study usually doesn’t teach students how to teach. Instead most graduate students find themselves instructing a college class with little to no teaching experience. Perhaps the most commonly used teaching technique is the lecture. Contrary to popular belief, a good lecture is not simply a list of facts or a rereading of the textbook. An effective lecture is the result of planning and making a series of choices, as discussed below.
Exert restraint in planning each class session. You can't cover all of the material in the text and assigned readings. Your lecture might be based on the most important material in the reading assignment, a topic from the reading that students are likely to find difficult, or material that doesn't appear in the text. Explain to students that you won't repeat much of the material in the assigned readings, and their job is to read carefully and critically, identifying and bringing questions about the readings to class.
Make Choices:
Your lecture should present no more than three or four major issues, with time for examples and questions. Anything more than a few points and your students will be overwhelmed. Determine the critical message of your lecture and then remove the adornments --present the bare bones in a succinct story. Students will absorb the salient points easily if they are few in number, clear, and coupled with examples.
Chunk It:
Break up your lectures so that they are presented in 20-minute chunks. What's wrong with a 1- or 2-hour lecture? Research shows that students remember the first and the last ten minutes of lecture, but little of the intervening time. Undergraduate students have a limited attention span--so take advantage of it to structure your class. Switch gears after each 20 minute mini-lecture and do something different: Pose a discussion question, a short in-class writing assignment, small group discussion, or problem-solving activity.
Get Active:
Learning is a constructive process. Students must think about material, making connections, relating new knowledge to what is already known, and applying knowledge to new situations. Only by working with information do we learn it. Effective instructors use active learning techniques in the classroom. Active learning is student-centered instruction that forces students to manipulate the material to solve problems, answer questions, formulate questions of their own, discuss, explain, debate, or brainstorm. Students tend to prefer active learning techniques because they are engaging and fun.
Pose Reflective Questions:
The simplest way of using active learning techniques in the classroom is to ask reflective questions--not yes or no questions, but those that require students to think (e.g., What would you do in this particular situation? How would you approach solving this problem?). Reflective questions are difficult, so be prepared to wait for an answer (at least 20 to 30 seconds).
Get Them Writing:
Rather than simply pose a discussion question as ask students to write about the question first for 3 to 5 minutes, then solicit their responses. The benefit of asking students to consider the question in writing is that they will have time to think through their response and feel more comfortable discussing their views without fear of forgetting their point. Asking students to work with the course content and determine how it fits with their experiences enables them to learn in their own way, making the material personally meaningful, which is at the heart of active learning.
NAMA : INDRA OKTAVIRO
NIM : A2KOO9247
PRODI : S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIB
Mata Kuliah : BAHASA INGGRIS
Jumlah SKS : 3 SKS
Dosen Pengasuh : Prof DrSAFNIL, M.Pd.
Tanggal : 23 Oktober 2010
TUGAS : Terjemahan Article berbahasa Inggris
Oleh Tara Kuther, Ph.D., Dosen dan Penulis About.com Guide
Banyak mahasiswa pascasarjana, terutama mereka yang meniti karir akademik sebagai profesor, akan mendapatkan diri mereka tampil di depan kelas. Namun ironisnya, studi pascasarjana biasanya tidak mengajarkan Mahasiswa bagaimana cara mengajar. Sebaliknya kebanyakan Mahasiswa pascasarjana memiliki jam terbang mengajar yang sedikit atau tidak ada pengalaman mengajar sama sekali. Mungkin teknik mengajar yang paling umum yang digunakan adalah cara mengajar dosen. Berlawanan dengan kepercayaan populer, kuliah yang baik bukan hanya daftar tugas atau membaca ulang buku teks. Sebuah kuliah yang efektif adalah hasil dari perencanaan dan membuat serangkaian pilihan, seperti dibahas di bawah ini.
Berusaha menahan diri dalam perencanaan di setiap sesi kelas. Anda tidak dapat menguasai semua bahan dalam teks dan bacaan yang ditugaskan. Perkuliahan Anda mungkin didasarkan pada materi penting dalam tugas membaca, topik dari bacaan yang mahasiswa akan baca mungkin akan menemukan kesulitan, atau materi yang dibaca tidak ditemukan dalam teks. Jelaskan kepada mahasiswa bahwa tidak usah mengulang-ulang membaca bahan pada bacaan yang ditugaskan, dan tugas mereka adalah membaca dengan seksama dan kritis, mengidentifikasi dan meberi pertanyaan tentang bacaan ke mahasiswa.
Membuat Pilihan:
Anda harus menyajikan perkiliahan dengan pokok bahasan yang tidak lebih dari tiga atau empat isu utama, dengan jatah waktu untuk contoh-contoh dan pertanyaan-pertanyaan. Apapun itu kalau pokok bahasannya cukup banyak akan membuat mahasiswa kewalahan. Tentukan masalah penting dari kuliah Anda dan kemudian ambil intinya buat menjadi poin-poin saja dalam bentuk yang ringkas. Mahasiswa akan menyerap poin-poin penting dengan mudah jika jumlahnya sedikit, jelas, dan ditambah dengan contoh-contoh.
Istirahat kan:
Istirahatkan perkuliahan selama 20 menit. Apa yang salah dengan 1 - atau 2-jam kuliah? Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mengingat sepuluh menit pertama dan sepuluh menit terakhir perkuliahan, tetapi sedikit yang memperhatikan waktu. Anak sekolah memiliki rentang perhatian terbatas – pemanfaatan waktu sesuai dengan struktur kelas. Pindah ke suasana baru setelah setiap 20 menit dan lakukan sesuatu yang berbeda: beri pertanyaan diskusi, tugas menulis singkat dalam kelas, diskusi kelompok kecil, atau kegiatan pemecahan masalah lainnya.
Aktifkan :
Belajar adalah suatu proses konstruktif. Mahasiswa harus berpikir tentang materi, mencari hubunganny, menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah diketahui, dan menerapkan pengetahuan untuk situasi baru. Hanya bekerja dengan informasi itu kita belajar. instruktur yang efektif menggunakan teknik pembelajaran aktif di kelas. pembelajaran aktif adalah instruksi-instruksi yang terfokus pada mahasiswa yang membuat mahasiswa memanipulasi material untuk mencari memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, merumuskan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, berdiskusi, menjelaskan, debat, atau bertukar pikiran. Mahasiswa cenderung memilih teknik pembelajaran aktif karena hal itu menarik dan menyenangkan.
Memberi Pertanyaan Reflektif:
Cara termudah menggunakan teknik pembelajaran aktif di kelas adalah dengan mengajukan pertanyaan reflektif -? Bukan pertanyaan ya atau tidak, tetapi yang membuat mahasiswa untuk berpikir (misalnya, Apa yang akan Anda lakukan pada situasi tertentu? Bagaimana cara Anda pemecahan masalah ini ?). Pertanyaan Reflektif sulit, jadi siapkanlah waktu untuk menunggu jawaban (setidaknya 20 sampai 30 detik).
Beri tugas Menulis:
Bukan sekadar mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk diskusikan oleh mahasiswa mita kepada mahasiswa untuk menulis jawaban atas pertanyaan selama 3 sampai 5 menit, kemudian minta tanggapan mereka. Manfaat meminta mahasiswa untuk membuat jawaban pertanyaan itu secara tertulis adalah memberi waktu kepada mereka untuk memikirkan responnya dan membuat mereka merasa lebih nyaman mendiskusikan pandangan mereka tanpa takut melupakan poinnya. Meminta mahasiswa untuk bekerja dengan isi materi dan menentukan apa hal itu sesuai dengan yang mereka alami, hal itu memungkinkan mereka untuk belajar dengan cara mereka sendiri, membuat materi bermakna secara pribadi, inilah yang merupakan inti dari pembelajaran aktif.
Langganan:
Postingan (Atom)

